Small Grant FOLU terdiri atas tiga tema utama. Tema membantu pengusul memastikan bahwa kegiatan yang diajukan mempunyai hubungan yang jelas dengan lingkungan dan kehutanan.
A. FOLU Goes to School
FOLU Goes to School ditujukan untuk satuan pendidikan dan generasi muda. Tema ini menggabungkan proses pendidikan dengan aksi lingkungan secara langsung.
Kegiatan yang dapat dikembangkan meliputi:
- pendidikan lingkungan dan perubahan iklim;
- penanaman dan perawatan pohon;
- penanaman mangrove;
- pengurangan dan pengelolaan sampah;
- aksi bersih lingkungan;
- konservasi sumber air;
- kebun sekolah;
- kampanye hemat energi;
- pemanfaatan limbah;
- pembelajaran berbasis alam.
Program dalam tema ini perlu bergerak melampaui kegiatan seremonial. Menanam pohon satu hari, misalnya, belum cukup apabila tidak disertai pemilihan jenis yang sesuai, pembagian tanggung jawab, perawatan, pemantauan, dan integrasi dengan pembelajaran.
SD Alam Pacitan menjadi contoh penerapan tema FOLU Goes to School. Sebelum mengakses hibah, sekolah telah menjalankan gerakan satu siswa satu tanaman, gerakan memungut sampah, pembelajaran berbasis alam, pemanfaatan limbah menjadi karya, serta kolaborasi dengan orang tua dan komunitas. Small Grant kemudian memperkuat kapasitas sekolah untuk mengembangkan aksi restorasi pesisir dalam program PARAS Pacitan.
B. FOLU Terra
FOLU Terra menghubungkan pelestarian ekosistem dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kegiatan dalam tema ini dapat berupa:
- pengembangan hasil hutan bukan kayu;
- budidaya madu hutan atau madu trigona;
- agroforestri;
- usaha pembibitan;
- ekowisata;
- jasa lingkungan;
- energi baru dan terbarukan;
- pengolahan produk lokal;
- pengembangan usaha ramah lingkungan;
- pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
FOLU Terra bukan program bantuan usaha biasa. Kegiatan ekonomi yang diusulkan harus mempunyai hubungan nyata dengan perlindungan ekosistem.
KUPS Topehvu, misalnya, mengembangkan usaha madu trigona berdasarkan potensi hutan adat Masewo. Habitat trigona bergantung pada keberadaan pohon dan ekosistem hutan yang sehat. Dengan demikian, peningkatan usaha madu juga memperkuat kepentingan masyarakat untuk menjaga hutan. Program tersebut berangkat dari kondisi nyata, pengetahuan lokal, pengalaman kelompok, dan peran perempuan adat sebagai penggerak utama.
C. FOLU Biodiversity
FOLU Biodiversity ditujukan untuk melindungi, memulihkan, dan memanfaatkan keanekaragaman hayati secara lestari.
Kegiatan yang dapat dikembangkan meliputi:
- penghijauan dan reboisasi;
- penanaman tanaman endemik atau lokal;
- perlindungan habitat;
- rehabilitasi lahan kritis;
- restorasi sungai;
- perlindungan sumber mata air;
- pemulihan vegetasi pesisir;
- perlindungan hutan;
- konservasi flora dan fauna;
- edukasi biodiversitas.
Usulan FOLU Biodiversity perlu menjelaskan ancaman yang dihadapi, lokasi, ekosistem atau spesies yang dilindungi, metode kegiatan, keterlibatan masyarakat, risiko, dan rencana pemeliharaan.
FPRB Desa Bayah Barat, misalnya, mengembangkan Gerak Cinta Sungai sebagai respons terhadap erosi Sungai Cidikit dan Cimadur. AOPGI Banten menggabungkan reboisasi tanaman endemik dengan edukasi keselamatan serta etika pendakian di Gunung Pulosari. Kedua contoh tersebut menunjukkan bahwa konservasi dapat dihubungkan dengan pengurangan risiko bencana, pendidikan, keselamatan, dan partisipasi komunitas.
Tema, subtema, dan jenis kegiatan
Ketiganya perlu dibedakan.
- Tema adalah payung utama, seperti FOLU Biodiversity.
- Subtema menunjukkan bidang intervensi, seperti restorasi sungai.
- Jenis kegiatan adalah tindakan yang dilaksanakan, seperti penanaman pohon dan pelatihan.
Contoh:
|
Unsur |
Contoh |
|
Tema |
FOLU Biodiversity |
|
Subtema |
Restorasi sungai |
|
Jenis kegiatan |
Penanaman pohon dan edukasi |
|
Masalah |
Erosi mengancam lahan dan permukiman |
|
Hasil yang diharapkan |
Vegetasi pelindung bertambah dan warga terlibat merawat sungai |
Jenis kegiatannya antara lain sosialisasi, pelatihan, penanaman pohon, penanaman mangrove, aksi bersih, aksi energi terbarukan, dan perlindungan hutan.