Restorasi Sungai sebagai Upaya Pengurangan Risiko Bencana
Profil dan Konteks Kelompok
Forum Pengurangan Risiko Bencana Desa Bayah Barat berdiri pada 2023. Pembentukannya difasilitasi oleh BPBD Kabupaten Lebak dengan dukungan UNDRR. Forum beranggotakan 30 orang, terdiri atas 15 perempuan dan 15 laki-laki dari unsur pemuda, kelompok perempuan, perangkat desa, dan organisasi lokal.
FPRB dibentuk bukan untuk memperoleh Small Grant. Kelompok lahir dari kebutuhan masyarakat menghadapi ancaman bencana, seperti banjir, longsor, gempa, dan tsunami. Sejak awal, forum menjalankan kegiatan:
- pelatihan kebencanaan;
- pemetaan risiko;
- penentuan jalur evakuasi;
- penentuan titik evakuasi;
- identifikasi ancaman;
- penanaman pohon secara swadaya;
- kerja sama dengan relawan dan mahasiswa.
Rekam jejak ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa FPRB mempunyai fungsi, anggota, pengalaman, dan legitimasi di masyarakat sebelum peluang hibah muncul.
Masalah yang Dihadapi
Sungai Cidikit dan Cimadur mengalami erosi dan pengurangan vegetasi di sempadan sungai. Bantaran yang gundul membuat lahan lebih mudah terkikis dan mengurangi kemampuan kawasan menyerap serta menahan air.
Persoalan tersebut tidak hanya dipandang sebagai masalah lingkungan. Kerusakan sungai berhubungan langsung dengan keselamatan, permukiman, lahan, dan penghidupan warga. Karena itu, program FPRB menghubungkan dua agenda:
- pemulihan fungsi ekologis sungai;
- pengurangan risiko bencana.
Cara pandang ini menjadi salah satu kekuatan utama proposal. Penanaman tidak ditempatkan sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai bagian dari strategi mengurangi erosi, meningkatkan daya resap, dan membangun kesadaran warga.
Pengalaman Gagal sebagai Modal Belajar
FPRB pernah mengajukan usulan serupa dan belum berhasil. Kegagalan tersebut bukan disembunyikan, tetapi digunakan untuk mengidentifikasi kelemahan.
Beberapa masalah proposal sebelumnya meliputi:
- analisis masalah belum tajam;
- urgensi belum tergambar kuat;
- profil dan konteks komunitas adat belum terjelaskan;
- anggaran belum jelas;
- hubungan kegiatan dengan hasil belum kuat.
Melalui pendampingan PATTIRO Banten dan PATTIRO, proposal diperbaiki dalam dua hingga tiga siklus revisi. Proses tersebut melelahkan, tetapi membantu kelompok memahami bahwa proposal bukan hanya dokumen administratif. Proposal adalah cara menjelaskan pengetahuan lokal kepada pihak yang tidak mengenal wilayah dan organisasi.
Pelajaran kritisnya adalah bahwa kegagalan tidak otomatis meningkatkan kapasitas. Kegagalan hanya menjadi pembelajaran apabila kelompok melakukan evaluasi, memperoleh umpan balik, dan memperbaiki sistemnya.
Program GERAK CINTA SUNGAI
Usulan FPRB berjudul Gerakan Revitalisasi Sungai Cidikit dan Cimadur Desa Bayah Barat melalui Penanaman 1.000 Pohon, atau GERAK CINTA SUNGAI.
Proposal merencanakan penanaman sekitar 1.000 pohon pada area kurang lebih dua hektare di sepanjang sempadan sungai. Jenis tanaman yang dipilih adalah Picung dan Muncang.
Pemilihan tersebut mempunyai dua dasar:
- secara ekologis dinilai dapat membantu memperkuat bantaran dan meningkatkan daya resap air;
- secara sosial dan budaya tanaman telah dikenal oleh masyarakat setempat.
Pemilihan tanaman lokal merupakan kekuatan, tetapi tetap perlu disertai kajian teknis mengenai jarak tanam, kesesuaian lokasi, tingkat hidup, pemeliharaan, dan pengaruh terhadap ekosistem. Label “tanaman lokal” tidak otomatis menjamin keberhasilan restorasi.
Program juga memasukkan edukasi tentang teknik penanaman dan pentingnya menjaga sempadan sungai. Pihak yang dilibatkan mencakup Karang Taruna, PKK, masyarakat, serta pelajar dari MTsN 2 Lebak, SMPN 1 Bayah, SMKN 1 Bayah, dan SMAN 1 Bayah. Pelibatan lintas generasi diarahkan untuk membangun tanggung jawab bersama terhadap sungai.
Faktor yang Membuat Praktik Ini Kuat
1. Masalah dan Solusi Berhubungan Langsung
Masalahnya adalah erosi dan bantaran yang gundul. Solusinya adalah pemulihan vegetasi, edukasi, dan pelibatan masyarakat.
2. Menghubungkan Ekologi dan Kebencanaan
Program menunjukkan bahwa restorasi lingkungan dapat menjadi strategi pengurangan risiko bencana.
3. Memanfaatkan Pengetahuan Lokal
Jenis tanaman dipilih dengan mempertimbangkan pengetahuan masyarakat dan kondisi wilayah.
4. Kelompok Memiliki Rekam Jejak
FPRB telah melakukan pemetaan risiko, pelatihan, evakuasi, dan kegiatan lapangan.
5. Kegagalan Sebelumnya Digunakan untuk Belajar
Kelompok tidak sekadar mengulang proposal lama, tetapi memperbaiki analisis, profil, anggaran, dan indikator.
6. Kolaborasi Lintas Kelompok
Keterlibatan sekolah, pemuda, perempuan, pemerintah, dan masyarakat memperkuat dukungan sosial.
Tantangan Internal
Kesulitan utama terletak pada kemampuan menulis proposal secara padat dan substantif. Masyarakat memahami masalah sungai melalui pengalaman, tetapi belum otomatis mampu menyajikannya dalam struktur yang diminta pemberi dana.
Tantangan lain adalah dokumentasi identitas dan pengetahuan komunitas. Sumber menekankan bahwa konteks masyarakat adat perlu dijelaskan secara memadai. Namun, identitas adat tidak seharusnya digunakan sekadar sebagai strategi proposal. Informasi tersebut harus benar, disepakati komunitas, dan relevan dengan kegiatan.
Tantangan Eksternal
Pergantian camat terjadi ketika proses pengajuan berlangsung. Akibatnya, komunikasi yang telah dibangun harus dimulai kembali dengan pejabat baru.
Kelompok juga menghadapi keterlambatan pencairan dan tidak mempunyai dana cadangan untuk memulai kegiatan. Situasi ini membuat jadwal bergeser dan memengaruhi kepercayaan masyarakat.
Masukan pendamping untuk menambah sesi edukasi juga membawa konsekuensi teknis. Aula desa tidak cukup menampung peserta sehingga kegiatan perlu dipindahkan ke ruang terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan yang terlihat kecil pada proposal dapat berdampak pada lokasi, logistik, keselamatan, dan anggaran.
Keberlanjutan
Penanaman bukan akhir kegiatan. Keberlanjutan membutuhkan:
- penanggung jawab per lokasi;
- jadwal pemantauan;
- penggantian tanaman mati;
- perlindungan dari gangguan;
- keterlibatan pemilik atau pengguna lahan;
- integrasi dengan agenda kebencanaan desa;
- dokumentasi perubahan kondisi sungai.
Tanpa pemeliharaan, jumlah pohon yang ditanam hanya menjadi output. Hasil ekologis baru dapat dinilai dari tingkat hidup, pertumbuhan vegetasi, stabilitas bantaran, serta perubahan kesadaran masyarakat.