Tahap 3 — Penyusunan Draf Proposal dan Coaching Clinic

  • Home
  • / Courses
  • / Tahap 3 — Penyusunan Draf Proposal dan Coaching Clinic
Course Content
Dana Layanan Masyarakat Untuk Lingkungan (Small Grant)
Permasalahan lingkungan paling nyata dirasakan di tingkat masyarakat, seperti erosi sungai, abrasi pesisir, berkurangnya tutupan hutan, terganggunya sumber air, meningkatnya sampah, dan menurunnya produktivitas lahan. Masyarakat memiliki pengetahuan lokal, pengalaman, dan jaringan sosial untuk merespons persoalan tersebut, tetapi sering menghadapi keterbatasan pendanaan, kapasitas administrasi, penyusunan proposal, serta akses terhadap sistem digital. Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan hadir untuk menghubungkan kebijakan pendanaan lingkungan dengan kebutuhan masyarakat di tingkat tapak. Melalui program ini, kelompok masyarakat, komunitas, sekolah, organisasi, dan individu yang memenuhi ketentuan dapat mengajukan kegiatan lingkungan dan kehutanan untuk memperoleh dukungan hibah. Walaupun disebut small grant atau hibah kecil, dampaknya dapat berkembang lebih besar apabila kegiatan sesuai kebutuhan wilayah, melibatkan masyarakat, dikelola secara transparan, dan memiliki rencana keberlanjutan. Materi ini membahas pengertian program, tema kegiatan, penerima manfaat, kesiapan kelompok, mekanisme pengajuan, penggunaan dana, pelaksanaan, monitoring, pelaporan, dan pertanggungjawaban.
0/10
Peran PATTIRO dalam Membuka Akses Pendanaan Hijau
Tersedianya program pendanaan hijau belum otomatis membuat masyarakat mudah mengaksesnya. Banyak komunitas memiliki pengetahuan lokal, pengalaman lapangan, dan gagasan kegiatan yang kuat, tetapi masih menghadapi keterbatasan informasi, dokumen kelembagaan, kemampuan menyusun proposal dan Rencana Anggaran Biaya, serta penggunaan platform digital. PATTIRO bersama mitra daerah berperan menjembatani kesenjangan tersebut melalui penyebaran informasi, penguatan kapasitas, pendampingan penyusunan usulan, coaching clinic, hingga finalisasi proposal. Pendampingan tidak mengambil alih kepemilikan program. Gagasan, akun, proposal, pelaksanaan kegiatan, penggunaan dana, dan pertanggungjawaban tetap berada pada komunitas.
0/6
Praktik Baik Kelompok Masyarakat dalam Mengakses Small Grant FOLU
Praktik baik dalam Small Grant FOLU tidak hanya ditandai oleh keberhasilan memperoleh dana. Hal yang lebih penting adalah bagaimana komunitas mengenali persoalan lingkungan, membangun gagasan berdasarkan kondisi wilayah, menyiapkan organisasi, menyusun proposal, melibatkan masyarakat, menghadapi hambatan, dan menjaga keberlanjutan kegiatan. Modul ini membahas pengalaman KUPS Topehvu, FPRB Desa Bayah Barat, AOPGI Banten, dan SD Alam Pacitan. Keempatnya mempunyai bentuk organisasi, wilayah, tema, dan kapasitas yang berbeda. Karena itu, pengalaman mereka tidak disajikan sebagai contoh yang harus disalin, melainkan sebagai sumber pembelajaran untuk memahami prinsip-prinsip yang dapat disesuaikan dengan konteks komunitas lain. Pembahasan tidak hanya menampilkan capaian, tetapi juga kegagalan sebelumnya, keterbatasan teknologi, kesulitan menyusun proposal dan RAB, keterlambatan pencairan, perubahan kondisi lapangan, dinamika sosial, serta tantangan pemeliharaan hasil. Pendekatan ini penting agar praktik baik tidak berubah menjadi cerita keberhasilan yang menutupi persoalan nyata.
0/6
Green Fund Access Training
About Lesson

Setelah data awal dan kesiapan kelompok dipetakan, komunitas mulai menyusun draf proposal. Proposal menggunakan format yang ditetapkan program, tetapi isinya harus berasal dari pengalaman dan kebutuhan kelompok.

Penyusunan Draf Proposal

Draf awal perlu mencakup:

  • judul;
  • lokasi;
  • latar belakang;
  • masalah;
  • tujuan;
  • tema dan subtema;
  • jenis kegiatan;
  • penerima manfaat;
  • tahapan kegiatan;
  • target;
  • indikator;
  • jadwal;
  • risiko;
  • keberlanjutan;
  • RAB;
  • dokumen pendukung.

Kriteria penilaian memperhatikan integritas penanggung jawab, rekam jejak kelompok, relevansi kegiatan dengan mitigasi perubahan iklim, kesetaraan gender, kejelasan lokasi, dampak lingkungan dan sosial, serta kelayakan RAB.

Apa Itu Coaching Clinic?

Coaching clinic adalah ruang pembelajaran terarah untuk membahas usulan setiap kelompok. Tujuannya bukan menilai kelompok secara sepihak, tetapi membantu komunitas melihat kekuatan, kelemahan, dan bagian yang perlu diperbaiki.

Dalam pengalaman pendampingan Tahap 4, coaching clinic dilakukan secara bertahap pada 19, 23, dan 30 Januari serta 9 Februari 2026. Proses tersebut melibatkan komunitas dan jejaring pendamping untuk mendiskusikan proposal sebelum tahap finalisasi.

Materi Coaching Clinic

1. Memperjelas masalah dan urgensi

Pendamping membantu kelompok menjawab:

  • masalah apa yang terjadi;
  • di mana;
  • siapa yang terdampak;
  • apa penyebabnya;
  • mengapa perlu segera ditangani;
  • apa bukti atau informasi pendukungnya.

2. Menyelaraskan tema dan kegiatan

Kegiatan harus sesuai dengan tema FOLU yang dipilih. Pendamping membantu kelompok menghindari pemilihan tema hanya karena dianggap mempunyai peluang besar.

3. Menyusun tujuan dan target

Tujuan perlu menggambarkan perubahan, sedangkan target perlu realistis dan terukur.

4. Mengidentifikasi penerima manfaat

Proposal perlu menjelaskan siapa yang memperoleh manfaat langsung dan tidak langsung serta bagaimana mereka dilibatkan.

5. Memperjelas lokasi

Lokasi perlu konsisten antara proposal, surat, peta, koordinat, dan RAB.

6. Menyusun tahapan kegiatan

Rangkaian kegiatan harus menunjukkan hubungan yang logis dari persiapan, pelaksanaan, pemeliharaan, sampai evaluasi.

7. Menyusun indikator

Indikator tidak hanya mengukur berapa orang hadir atau berapa bibit ditanam, tetapi juga perubahan yang diharapkan.

8. Membuat jadwal

Jadwal harus mempertimbangkan musim, cuaca, akses lokasi, ketersediaan bibit, dan durasi program.

9. Menyusun RAB

Coaching clinic membantu memeriksa:

  • kesesuaian kegiatan dan biaya;
  • volume;
  • satuan;
  • harga;
  • jumlah peserta;
  • logistik;
  • larangan penggunaan dana;
  • kondisi geografis.

10. Memeriksa risiko

Risiko dapat berupa:

  • cuaca;
  • konflik lahan;
  • keterlambatan dana;
  • keterbatasan internet;
  • perubahan pejabat;
  • jumlah peserta;
  • keselamatan;
  • resistensi masyarakat.

11. Memperkuat gender dan inklusi

Pendamping perlu memastikan bahwa perempuan, pemuda, masyarakat adat, dan kelompok rentan tidak hanya menjadi peserta, tetapi terlibat dalam pengambilan keputusan.

Kajian praktik baik menegaskan bahwa pendamping perlu menjaga agar inklusivitas benar-benar hadir dalam rapat, pemilihan kegiatan, penentuan bibit, dan keputusan pemeliharaan.

12. Menyiapkan dokumen pendukung

Coaching clinic juga memeriksa legalitas, rekomendasi, dokumentasi, lokasi, dan lampiran lain.

Prinsip Coaching Clinic

  • Menggunakan pertanyaan, bukan mengambil alih

Pendamping dapat bertanya:

  • Mengapa kegiatan ini penting?
  • Siapa yang akan merawat hasilnya?
  • Apakah target sesuai kapasitas kelompok?
  • Bagaimana harga dalam RAB diperoleh?
  • Apa yang terjadi jika jadwal berubah?

Pertanyaan membantu komunitas memperbaiki gagasannya sendiri.

  • Memberikan masukan yang dapat dipahami

Masukan harus menggunakan bahasa yang jelas, bukan sekadar istilah teknis seperti “belum selaras secara logis” tanpa penjelasan.

  • Membedakan kewajiban dan saran

Kelompok perlu mengetahui mana ketentuan wajib dan mana saran untuk memperkuat proposal.

  • Mendokumentasikan revisi

Setiap catatan perlu disimpan agar kelompok mengetahui perubahan dan alasan perubahannya.

  • Memastikan persetujuan komunitas

Revisi akhir harus dibaca dan disepakati kelompok.

  • Tidak menjanjikan kelulusan

Coaching clinic meningkatkan kualitas proposal, tetapi tidak mengubah kewenangan seleksi.

Join the conversation