Praktik Baik KUPS Topehvu

Course Content
Dana Layanan Masyarakat Untuk Lingkungan (Small Grant)
Permasalahan lingkungan paling nyata dirasakan di tingkat masyarakat, seperti erosi sungai, abrasi pesisir, berkurangnya tutupan hutan, terganggunya sumber air, meningkatnya sampah, dan menurunnya produktivitas lahan. Masyarakat memiliki pengetahuan lokal, pengalaman, dan jaringan sosial untuk merespons persoalan tersebut, tetapi sering menghadapi keterbatasan pendanaan, kapasitas administrasi, penyusunan proposal, serta akses terhadap sistem digital. Layanan Dana Masyarakat untuk Lingkungan hadir untuk menghubungkan kebijakan pendanaan lingkungan dengan kebutuhan masyarakat di tingkat tapak. Melalui program ini, kelompok masyarakat, komunitas, sekolah, organisasi, dan individu yang memenuhi ketentuan dapat mengajukan kegiatan lingkungan dan kehutanan untuk memperoleh dukungan hibah. Walaupun disebut small grant atau hibah kecil, dampaknya dapat berkembang lebih besar apabila kegiatan sesuai kebutuhan wilayah, melibatkan masyarakat, dikelola secara transparan, dan memiliki rencana keberlanjutan. Materi ini membahas pengertian program, tema kegiatan, penerima manfaat, kesiapan kelompok, mekanisme pengajuan, penggunaan dana, pelaksanaan, monitoring, pelaporan, dan pertanggungjawaban.
0/10
Peran PATTIRO dalam Membuka Akses Pendanaan Hijau
Tersedianya program pendanaan hijau belum otomatis membuat masyarakat mudah mengaksesnya. Banyak komunitas memiliki pengetahuan lokal, pengalaman lapangan, dan gagasan kegiatan yang kuat, tetapi masih menghadapi keterbatasan informasi, dokumen kelembagaan, kemampuan menyusun proposal dan Rencana Anggaran Biaya, serta penggunaan platform digital. PATTIRO bersama mitra daerah berperan menjembatani kesenjangan tersebut melalui penyebaran informasi, penguatan kapasitas, pendampingan penyusunan usulan, coaching clinic, hingga finalisasi proposal. Pendampingan tidak mengambil alih kepemilikan program. Gagasan, akun, proposal, pelaksanaan kegiatan, penggunaan dana, dan pertanggungjawaban tetap berada pada komunitas.
0/6
Praktik Baik Kelompok Masyarakat dalam Mengakses Small Grant FOLU
Praktik baik dalam Small Grant FOLU tidak hanya ditandai oleh keberhasilan memperoleh dana. Hal yang lebih penting adalah bagaimana komunitas mengenali persoalan lingkungan, membangun gagasan berdasarkan kondisi wilayah, menyiapkan organisasi, menyusun proposal, melibatkan masyarakat, menghadapi hambatan, dan menjaga keberlanjutan kegiatan. Modul ini membahas pengalaman KUPS Topehvu, FPRB Desa Bayah Barat, AOPGI Banten, dan SD Alam Pacitan. Keempatnya mempunyai bentuk organisasi, wilayah, tema, dan kapasitas yang berbeda. Karena itu, pengalaman mereka tidak disajikan sebagai contoh yang harus disalin, melainkan sebagai sumber pembelajaran untuk memahami prinsip-prinsip yang dapat disesuaikan dengan konteks komunitas lain. Pembahasan tidak hanya menampilkan capaian, tetapi juga kegagalan sebelumnya, keterbatasan teknologi, kesulitan menyusun proposal dan RAB, keterlambatan pencairan, perubahan kondisi lapangan, dinamika sosial, serta tantangan pemeliharaan hasil. Pendekatan ini penting agar praktik baik tidak berubah menjadi cerita keberhasilan yang menutupi persoalan nyata.
0/6
Green Fund Access Training
About Lesson

Menjaga Hutan melalui Pengembangan Madu Trigona

Profil dan Konteks Komunitas

KUPS Topehvu merupakan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial yang berada di Desa Masewo, Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Kelompok ini mengembangkan usaha madu trigona yang habitat alaminya berada pada pepohonan besar di kawasan hutan adat.

Kelompok berdiri pada 2025 dengan 15 anggota. Hampir seluruh anggotanya adalah perempuan adat, dengan hanya satu anggota laki-laki. Posisi perempuan dalam kelompok bukan sekadar sebagai pekerja atau penerima manfaat. Mereka menjadi penggerak organisasi, pengelola usaha, penjaga hubungan komunitas, dan pengambil keputusan.

Kondisi geografis Masewo menjadi salah satu unsur penting dalam memahami kasus ini. Desa berada di wilayah yang relatif terpencil dengan akses jalan, transportasi, perangkat, dan jaringan komunikasi yang terbatas. Materi kelompok menggambarkan perjalanan menuju desa yang harus melewati jalur panjang dan medan yang sulit. Dalam konteks seperti ini, persyaratan pendaftaran digital yang terlihat sederhana bagi kelompok perkotaan dapat menjadi hambatan besar bagi komunitas.

Karsa Institute telah mendampingi masyarakat Masewo dalam proses pengusulan dan pengelolaan hutan adat selama bertahun-tahun. Pendampingan tersebut menjadi dasar penting dalam membangun organisasi, tata kelola hutan, serta akses kelompok terhadap informasi pendanaan.

Masalah dan Potensi yang Menjadi Dasar Program

KUPS Topehvu tidak memulai proposal dari kegiatan yang sama sekali baru. Masyarakat telah mengenal trigona dan memahami hubungan lebah dengan hutan. Beberapa anggota telah merawat koloni dalam skala kecil, memasang umpan di kawasan hutan untuk menarik koloni, dan memanfaatkan hasil madu sebagai modal awal.

Ketika warga menemukan sarang trigona di kawasan hutan, sarang tersebut dapat diserahkan kepada kelompok untuk dikelola. Praktik ini menunjukkan adanya kepercayaan sosial bahwa pengembangan madu bukan hanya kepentingan 15 anggota, tetapi berpotensi memberikan manfaat yang lebih luas bagi warga Desa Masewo.

Potensi ekologisnya juga jelas:

  • hutan adat masih menyediakan habitat;
  • pohon dan tanaman hutan menyediakan sumber pakan;
  • masyarakat memiliki pengetahuan lokal;
  • lebah trigona mempunyai nilai ekonomi;
  • keberlanjutan usaha bergantung pada kelestarian hutan.

Hubungan tersebut membentuk lingkaran yang saling menguatkan. Hutan yang sehat mendukung lebah. Lebah menghasilkan madu. Madu memberikan sumber penghidupan. Manfaat ekonomi memperkuat alasan masyarakat untuk menjaga hutan.

Namun, hubungan ini tidak otomatis menjamin konservasi. Usaha juga dapat menimbulkan tekanan apabila pengambilan koloni, panen, perluasan produksi, atau pemasaran dilakukan tanpa pengetahuan yang memadai. Karena itu, peningkatan kapasitas teknis menjadi bagian penting dari program, bukan hanya pembangunan fasilitas.

Rekam Jejak dan Kesiapan Kelompok

Walaupun kelompok tergolong baru, anggotanya tidak memulai dari nol. Mereka telah:

  • mempraktikkan budidaya trigona;
  • merawat koloni di rumah anggota;
  • memasang umpan di hutan;
  • memproduksi madu;
  • menggunakan hasil penjualan sebagai modal;
  • mengikuti kegiatan penguatan kapasitas;
  • membuka jaringan melalui pameran, inkubasi bisnis, dan media;
  • memiliki Nomor Induk Berusaha;
  • memiliki sertifikat halal.

Legalitas produk menunjukkan keseriusan usaha, tetapi tidak boleh dijadikan satu-satunya ukuran kesiapan. Kekuatan utama kelompok justru berada pada pengetahuan lokal, dukungan warga, dan hubungan nyata antara usaha dengan hutan adat.

Proses Mengakses Small Grant

Informasi Small Grant diperoleh melalui Karsa Institute, yang kemudian bekerja sama dengan PATTIRO dalam proses coaching clinic. Pendamping membantu menjelaskan ketentuan, mengelola proses digital, dan menuangkan gagasan kelompok ke dalam format proposal.

Akses digital menjadi tantangan utama. Jaringan di desa tidak stabil, kemampuan menggunakan komputer terbatas, dan perangkat anggota sempat rusak. Karena itu, anggota menyampaikan gagasan melalui telepon genggam, sedangkan pendamping membantu menuliskan dan mengunggah dokumen.

Situasi tersebut menimbulkan persoalan penting mengenai kepemilikan akun. Materi kelompok menyebut bahwa proses teknis akun diberikan kepada pendamping karena kondisi jaringan. Praktik ini dapat dimengerti secara operasional, tetapi tetap memiliki risiko ketergantungan dan keamanan data. Karena itu, prinsip yang perlu diambil bukan “akun sebaiknya diserahkan kepada pendamping”, melainkan “pendamping dapat membantu proses teknis, tetapi komunitas harus mengetahui data akun, memperoleh salinan dokumen, dan tetap mengendalikan keputusan”.

Hal yang tetap dijaga adalah kepemilikan substansi. Ide kegiatan, kebutuhan kelompok, tujuan, dan prioritas berasal dari diskusi internal anggota. Pendamping menerjemahkan ke dalam format proposal, tetapi tidak menciptakan program dari luar.

Gagasan Program

KUPS Topehvu mengusulkan kegiatan peningkatan kapasitas dan inovasi dalam pengelolaan usaha madu trigona. Dua kebutuhan utama yang muncul adalah:

  1. pelatihan peningkatan kapasitas budidaya trigona;
  2. pembangunan fasilitas bersama untuk mendukung produksi dan pengelolaan.

Pelatihan diperlukan karena anggota masih membutuhkan pengetahuan tentang:

  • perawatan koloni;
  • siklus panen;
  • waktu panen yang tepat;
  • kualitas madu;
  • inovasi pengolahan;
  • pengemasan;
  • pemasaran;
  • pengelolaan usaha.

Fasilitas fisik dipandang penting, tetapi kelompok kemudian menghadapi diskusi internal mengenai prioritas antara rumah budidaya dan rumah produksi. Sebagian anggota menilai rumah budidaya lebih mendesak untuk memusatkan perawatan koloni. Usulan awal lebih menekankan rumah produksi untuk pengolahan dan pengemasan.

Kelompok akhirnya menempatkan pelatihan sebagai prioritas, sementara fasilitas disesuaikan dengan anggaran. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kapasitas manusia dapat lebih mendasar daripada pembangunan fisik. Fasilitas yang baik tidak akan optimal apabila anggota belum memahami teknik budidaya dan panen.

Faktor yang Membuat Praktik Ini Kuat

1. Program Berakar pada Kondisi Ekologis

Madu trigona bukan komoditas yang dipilih karena sedang populer. Produk tersebut berasal dari hutan adat, pengetahuan masyarakat, dan koloni yang telah ada.

2. Ada Hubungan antara Konservasi dan Penghidupan

Pendapatan kelompok bergantung pada hutan yang sehat. Hal ini menciptakan insentif langsung untuk menjaga tutupan hutan dan sumber pakan lebah.

3. Perempuan Adat Menjadi Penggerak

Kasus ini memperlihatkan bahwa perempuan adat bukan sekadar kelompok penerima manfaat, tetapi aktor utama pengelolaan sumber daya alam.

4. Komunitas Memiliki Inisiatif

Keterbatasan perangkat dan jaringan tidak menghentikan kelompok menyiapkan dokumen serta mengikuti proses.

5. Pendamping Menjembatani Hambatan

Pendampingan menjadi sangat penting bagi komunitas terpencil, tetapi tetap diarahkan untuk menjaga suara dan kepemilikan kelompok.

Tantangan Pelaksanaan

Keberhasilan proposal tidak langsung menyelesaikan persoalan. Kelompok menghadapi keterlambatan pencairan termin pertama sehingga pelatihan dan pembangunan fasilitas belum dapat dilaksanakan sesuai jadwal.

Keterlambatan tidak hanya berdampak pada administrasi. Dampaknya dapat mencakup:

  • hilangnya momentum anggota;
  • tertundanya peningkatan kapasitas;
  • tidak pastinya jadwal narasumber;
  • tertundanya produksi;
  • terganggunya siklus usaha;
  • menurunnya kepercayaan masyarakat.

Sementara menunggu dana, anggota tetap merawat koloni dan memasang umpan baru. Namun, masih terdapat kesenjangan pengetahuan mengenai siklus panen yang berisiko terhadap kesehatan koloni apabila panen dilakukan pada waktu yang tidak tepat.

Keberlanjutan

Rencana keberlanjutan KUPS Topehvu mencakup:

  • sistem modal bergulir dari penjualan madu;
  • pengembangan pasar;
  • kerja sama dengan sektor swasta;
  • hubungan dengan dinas terkait;
  • akses terhadap pendanaan lanjutan;
  • pemeliharaan hutan sebagai habitat trigona.

Keberlanjutan tersebut masih memerlukan prasyarat. Usaha perlu mempunyai pencatatan keuangan, pembagian manfaat, standar produksi, mekanisme regenerasi koloni, dan sistem yang memastikan peningkatan pasar tidak justru mendorong eksploitasi berlebihan.

Pesan Utama

Penghidupan berbasis hutan dapat memperkuat konservasi apabila masyarakat menjadi pemilik usaha, manfaat dibagi secara adil, dan peningkatan produksi tetap mengikuti daya dukung ekosistem.

Join the conversation